Jumaat, 21 Jun 2013

TEORI BELAJAR KOGNITIVISME


Teori Belajar Kognitivisme
1. Pengertian Kognitivisme
Teori belajar kognitif lebih menekankan pada belajar merupakan suatu proses yang terjadi dalam akal pikiran manusia. Pada dasarnya belajar adalah suatu proses usaha yang melibatkan aktivitas mental yang terjadi dalam diri manusia sebagai akibat dari proses interaksi aktif dengan lingkungannya untuk memperoleh suatu perubahan dalam bentuk pengetahuan, pemahaman, tingkah laku, ketrampilan dan nilai sikap yang bersifat relatif dan berbekas.
2. Ciri-ciri Aliran Kognitivisme
a)Mementingkan apa yang ada dalam diri manusia
b) Mementingkan keseluruhan dari pada bagian-bagian
c) Mementingkn peranan kognitif
d) Mementingkan kondisi waktu sekarang
e) Mementingkan pembentukan struktur kognitif
Belajar kognitif ciri khasnya terletak dalam belajar memperoleh dan mempergunakan bentuk-bentuk reppresentatif yang mewakili obyek-obyek itu di representasikan atau di hadirkan dalam diri seseorang melalui tanggapan, gagasan atau lambang, yang semuanya merupakan sesuatu yang bersifat mental, misalnya seseorang menceritakan pengalamannya selama mengadakan perjalanan keluar negeri, setelah kembali kenegerinya sendiri. Tampat-tempat yang dikunjuginya selama berada di lain negara tidak dapat diabawa pulang, orangnya sendiri juga tidak hadir di tempat-tempat itu. Pada waktu itu sedang bercerita, tetapi semulanya tanggapan-tanggapan, gagasan dan tanggapan itu di tuangkan dalam kata-kata yang disampaikan kepada orang yang mendengarkan ceritanya.


3. Tokoh-tokoh
a. Teori Perkembangan Kognitif, dikembangkan oleh Jean Piaget. Teorinya memberikan banyak konsep utama dalam lapangan psikologi perkembangan dan berpengaruh terhadap perkembangan konsep kecerdasan. Menurut Piaget, bahwa belajar akan lebih berhasil apabila disesuaikan dengan tahap perkembangan kognitif peserta didik. Peserta didik hendaknya diberi kesempatan untuk melakukan eksperimen dengan obyek fisik, yang ditunjang oleh interaksi dengan teman sebaya dan dibantu oleh pertanyaan tilikan dari guru.  Guru  hendaknya banyak memberikan rangsangan kepada peserta didik agar mau berinteraksi dengan lingkungan secara aktif, mencari dan menemukan berbagai hal dari lingkungan.
Implikasi teori perkembangan kognitif Piaget dalam pembelajaran adalah : Bahasa dan cara berfikir anak berbeda dengan orang dewasa. Oleh karena itu guru mengajar dengan menggunakan bahasa yang sesuai dengan cara berfikir anak; Anak-anak akan belajar lebih baik apabila dapat menghadapi lingkungan dengan baik. Guru harus membantu anak agar dapat berinteraksi dengan lingkungan sebaik-baiknya; Bahan yang harus dipelajari anak hendaknya dirasakan baru tetapi tidak asing; Berikan peluang agar anak belajar sesuai tahap perkembangannya. Di dalam kelas, anak-anak hendaknya diberi peluang untuk saling berbicara dan diskusi dengan teman-temanya.
b. Teori Perkembangan Kognitif, dikembangkan oleh Bruner.
Berbeda dengan Piaget, Burner melihat perkembangan kognitif manusia berkaitan dengan kebudayaan. Bagi Bruner, perkembangan kognitif seseorang sangat dipengaruhi oleh lingkungan kebudayaan, terutama bahasa yang biasanya digunakan.
Menurut Bruner untuk mengajar sesuatu tidak usah ditunggu sampai anak mancapai tahap perkembangan tertentu. Yang penting bahan pelajaran harus ditata dengan baik maka dapat diberikan padanya. Dengan lain perkataan perkembangan kognitif seseorang dapat ditingkatkan dengan jalan mengatur bahan yang akan dipelajari dan menyajikannya sesuai dengan tingkat perkembangannya. Penerapan teori Bruner yang terkenal dalam dunia pendidikan adalah kurikulum spiral dimana materi pelajaran yang sama dapat diberikan mulai dari Sekolah Dasar sampai Perguruan tinggi disesuaikan dengan tingkap perkembangan kognitif mereka. Cara belajar yang terbaik menurut Bruner ini adalah dengan memahami konsep, arti dan hubungan melalui proses intuitif kemudian dapat dihasilkan suatu kesimpulan. (discovery learning).
Implikasi Teori Bruner dalam Proses Pembelajaran :
Menghadapkan anak pada suatu situasi yang membingungkan atau suatu masalah; anak akan berusaha membandingkan realita di luar dirinya dengan model mental yang telah dimilikinya; dan dengan pengalamannya anak akan mencoba menyesuaikan atau mengorganisasikan kembali struktur-struktur idenya dalam rangka untuk mencapai keseimbangan di dadalam benaknya
c. Teori Perkembangan Kognitif, dikembangkan oleh Ausebel, Proses belajar terjadi jika siswa mampu mengasimilasikan pengetahuan yang dimilikinya dengan pengetahuan baru
Proses belajar terjadi melaui tahap-tahap:
1) Memperhatikan stimulus yang diberikan
2) Memahami makna stimulus menyimpan dan menggunakan informasi yang sudah dipahami.
Menurut Ausubel siswa akan belajar dengan baik jika isi pelajarannya didefinisikan dan kemudian dipresentasikan dengan baik dan tepat kepada siswa (advanced organizer), dengan demikian akan mempengaruhi pengaturan kemampuan belajar siswa. Advanced organizer adalah konsep atau informasi umum yang mewadahi seluruh isi pelajaran yang akan dipelajari oleh siswa. Advanced organizer memberikan tiga manfaat yaitu : Menyediakan suatu kerangka konseptual untuk materi yang akan dipelajari. Berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan antara yang sedang dipelajari dan yang akan dipelajari. Dapat membantu siswa untuk memahami bahan belajar secara lebih mudah
4. Aplikasi teori Kognitivisme
Aplikasi teori belajar kognitivisme dalam pembelajaran yaitu guru harus memahami bahwa siswa bukan sebagai orang dewasa yang mudah dalam proses berpikirnya, anak usia pra sekolah dan awal sekolah dasar belajar menggunakan benda-benda konkret, keaktifan siswa sangat dipentingkan, guru menyusun materi dengan menggunakan pola atau logika tertentu dari sederhana kekompleks, guru menciptakan pembelajaran yang bermakna, memperhatian perbedaan individual siswa untuk mencapai keberhasilan siswa.
5. Kelebihan dan kelemahan teori Kognitivisme
a.  Kelebihannya yaitu : menjadikan siswa lebih kreatif dan mandiri; membantu siswa memahami bahan belajar secara lebih mudah.
b.  Kekurangannya yaitu : teori tidak menyeluruh untuk semua tingkat pendidikan; sulit di praktikkan khususnya di tingkat lanjut; beberapa prinsip seperti intelegensi sulit dipahami dan pemahamannya masih belum tuntas.








Khamis, 20 Jun 2013

GAYA BAHASA


 1.      Majas Perbandingan


a. Personifikasi


Majas yang melukiskan suatu benda dengan memberikan sifat-sifat manusia kepada benda-benda mati sehingga seolah-olah mempunyai sifat seperti manusia/benda hidup.


 


Contoh : Baru tiga km berjalan mobilnya sudah batuk-batuk.


b. Depersonifikasi


Majas yang menampilkan manusia sebagai binatang, benda-benda alam, atau benda lainnya.


 


Contoh: Hari, tokoh partai X tidak disukai karena ia sering  menjadi bunglon


c. Metafora


Majas ini semacam analogi yang membandingkan dua hal secara langsung.


 


Contoh : -  Raja siang telah pergi ke peraduannya.


   -  Dewi malam telah keluar dari balik awan.


d.      Simile


Perbandingan dua hal yang sengaja dianggap sama. Perbandingan itu secara eksplisit dijelaskan oleh pemakaian kata seperti, sebagai, ibarat, umpama, bak, laksana.


Contoh: Wajah ibu dan anak itu bagaikan pinang dibelah dua.


 


 


e.       Alegori


Majas perbandingan yang memperlihatkan suatu perbandingan utuh. Perbandingan itu membentuk kesatuan yang menyeluruh.


Contoh: Menikah itu seperti mengarungi bahtera rapuh di tengah lautan yang penuh akan riak ombak dan hal menegangkan lainnya. Jika kita tak berhati-hari, bisa salah arah dan tak tahu jalan pulang. Atau, jika kurang kuat, kapal bisa saja hancur lebih diterjang ombak ganas di laut. Menguatkan kapal dan memperbaharui kualitas nahkoda adalah jalan terbaik untuk bertahan.


 


2.      Majas Pertentangan


a.       Hiperbola


Majas yang memperlihatkan sesuatu yang berlebih-lebihan jumlahnya, ukurannya, atau sifatnya.


Contoh: Tiga tahun telah berlalu sejak meninggalnya kekasihku, namun tak sedetik pun wajahnya hilang dari ingatanku.


b.      Litotes


Majas yang melukiskan keadaan dengan kata-kata yang berlawanan artinya dengan kenyataan yang sebenarnya guna merendahkan diri.


Contoh: Perjuangan kami hanyalah setitik air dalam samudra luas.


c.       Antitesis


Majas pertentangan yang melukiskan sesuatu dengan menggunakan kata yang berlawanan arti.


Contoh: Gadis yang secantik si Ida dipersunting oleh si Dedi yang  jelek itu.


d.      Paradoks


Majas pertentangan yang melukiskan sesuatu solah-olah bertentangan, padahal maksud sesungguhnya tidak.


Contoh: Hatinya sunyi tinggal di kota Jakarta yang ramai.


e.       Okupasi


Majas pertentangan yang melukiskan sesuatu dengan bantahan. Namun bantahan tersebut kemudian diberi penjelasan/diakhiri dengan kesimpulan.


Contoh: Merokok itu merusak kesehatan, akan tetapi si perokok tak dapat menghentikan kebiasaannya. Maka muncullah pabrik-pabrik rokok karena untung banyak.


f.       Kontradiksi Internimis


Majas yang memperlihatkan sesuatu yang bertentangan dengan apa yang sudah dikatakan sebelumnya. 


Contoh: Semua murid di kelas ini hadir, kecuali Hasan yang sedang ikut jambore.


 


3. Majas Pertautan


a.       Metonimia


Gaya bahasa yang menggunakan nama barang/merk dagang sebagai pengganti barang itu sendiri.


Contoh:  Kemarin ia memakai Xenia


b.      Sinekdoke


*    1)   Pars Pro Toto


Majas sinekdoke yang melukiskan sebagian tetapi yang dimaksud seluruhnya.


Contoh : Dia mempunyai lima ekor kuda.


*                                    2)  Totem Pro Parte


Majas sinekdoke yang melukiskan keseluruhan tetapi yang dimaksud sebagian.


Contoh : Kaum wanita memperingati hari Kartini.


c.       Eufinisme (ungkapan pelembut)


Pengungkapan kata-kata yang dipandang tabu atau dirasa kasar dengan kata-kata lain yang lebih pantas atau dianggap halus.


Contoh: Para tuna karya perlu perhatian yang serius dari pemerintah


d.      Alusi


Gaya bahasa yang  menunjuk secara tidak langsung ke suatu peristiwa atau tokoh yang telah umum dikenal/diketahui orang.


Contoh: Tugu ini mengenangkan kita kembali ke peristiwa Bandung Selatan. 


 


e.       Elipsis


Gaya bahasa yang di dalamnya terdapat penanggalan atau penghilangan salah satu atau beberapa unsur penting dari suatu konstruksi sintaksis.


Contoh:


Dia dan istrinya ke Jakarta minggu lalu.


 


 


 


 


f.       Autonomasia


Majas perbandingan dengan menyebutkan nama lain terhadap seseorang berdasarkan ciri atau sifat menonjol yang dimilikinnya.


Contoh: Si pincang itu ternyata adalah seorang pengusaha kuliner.


 


4.      Majas Perulangan


a.       Repetisi


Merupakan majas yang melukiskan sesuatu dengan mengulang kata  atau beberapa kata berkali-kali, yang biasanya digunakan dalam pidato.


Contoh: Kita junjung dia sebagai pemimpin, kita junjung dia sebagai   pelindung rakyat, kita junjung dia sebagai pembebas kita.


 


b.       Pararelisme


Majas seperti repetisi tetapi dipakai dalam puisi.


 


*                                                1)    Anafora : Jika  kata yang diulang terletak di awal baris.


     Contoh:


                                         Kalaulah diam malam yang kelam


     Kalaulah tenang sawang dan lapang


                                         Kalaulah lelap orang di lawang


 


*                                       2)  Epifora : Jika kata yang diulang terletak diakhir baris.


    Contoh:


    Kalau kau mau, aku akan datang


    Jika kau kehendaki, aku akan datang


    Bila kau minta, aku akan datang


 


*                                       3)  Simploke : Jika kata yang diulang terletak di awal dan akhir baris.


    Contoh :
    Kau bilang aku ini egois, aku bilang terserah aku
    Kau bilang aku ini judes, aku bilang terserah aku


 


*                                       4)   Mesodiplosis : MJika kata yang diulang terletak di tengah baris.


    Contoh:


    Pendidik harus meningkatkan kecerdasan bangsa
    Para dokter harus meningkatkan kesehatan masyarakat


 


*                                       5)   Epanalepsis : Jika kata pertama diulang pada akhir.


    Contoh :
                Kita gunakan pikiran dan perasaan kita.


 


c.       Kiasmus


Gaya bahasa yang berisikan perulangan dan sekaligus merupakan inversi atau pembalikan susunan antara dua kata dalam satu kalimat.


Contoh: Yang kaya merasa dirinya miskin, sedang yang miskin mengaku dirinya kaya.


 


d.      Aliterasi


Sejenis majas yang memanfaatkan purwakanti atau pemakaian kata-kata yang permulaannya sama bunyinya.


Contoh:  -  Dara damba daku


   -  Datang dari danau


e.       Antanaklasis


Majas yang mengandung ulangan kata yang sama dengan makna yang berbeda.


Contoh: Saya selalu membawa buah tangan kepada buah hati saya.


 


     5. Majas Sindiran


a.       Ironi


Majas yang menyatakan makna yang bertentangan dengan maksud untuk menyindir.


Contoh:   -  O... kamu baru bangun, baru pukul sepuluh pagi.


    -  Bersihnya kamar ini, puntung rokok dimana-mana.


 


b.      Sinisme


Majas  sindiran yang agak kasar dibandingkan dengan majas ironi.


Contoh: Dengan sifatmu yang malas berusaha semoga kamu mendapatkan pekerjaan yang bagus.


 


c.       Sarkasme


Majas sindiran yang paling kasar dibandingkan majas ironi dan sinisme.


Contoh: Otakmu itu memang sudah bukan otak manusia lagi. Otakmu   itu sudah menjadi otak udang.


 


      6. Majas Penegasan


a.       Pleonasme


Majas yang menggunakan kata-kata yang sebenarnya tidak perlu dikatakan lagi karena arti kata tersebut sudah terkandung dalam kata yang diterangkan.


Contoh: Salju sudah mulai turun ke bawah.


 


b.      Klimaks


Majas yang menyatakan beberapa hal berturt-turut dengan menggunakan urutan kata-kata yang semakin lama semakin memuncak pengertiannya.


Contoh: Semua usia dari anak-anak, remaja, dewasa, dan orang tua memenuhi arena pasar malam itu.


 


 


 


 


 


c.       Antiklimaks


Majas penegasan yang melukiskan sesuatu dengan menyatakan beberapa hal berturut-turut dengan menggunakan urutan kata-kata yang semakin lama semakin menurun pengertiannya.


Contoh: Jangankan seribu, seratus, serupiah pun tak ada.


 


d.      Retoris


Majas penegasan dengan menggunakan kalimat tanya yang jawabannya sudah diketahui.


Contoh: Mana mungkin orang mati hidup kembali?


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

 


DAFTAR PUSTAKA


 


 


Keraf, Gorys.2004:Diksi dan Gaya Bahasa.Jakarta:PT Gramedia Pustaka Utama


 


Tarigan, Henry Guntur.1979: Membaca Sebagai Suatu Keterampilan     Berbahasa.Bandung:Angkasa Bndung.